Rabu, 23 Agustus 2017

Indonesia Harus Merdeka Diare Untuk Anak Indonesia Yang Lebih Sehat


Menurut data Riskesdas tahun 2013, satu dari 7 anak Indonesia pernah mengalami diare. Frekuensinya mencapai 2 hingga 6 kali dalam setahun. Apa penyebabnya sampai banyak anak yang terjangkit diare? Bagaimana penanganan yang tepat ketika anak diare? Sedikit ulasan di tulisan ini semoga bisa membantu.

Diare merupakan kondisi dimana penderita mengalami Buang Air Besar (BAB) lebih dari dua atau tiga kali dalam 24 Jam. Kondisi feses (kotoran) yang dikeluarkan bentuknya lembek atau cair, bahkan ada yang hanya air saja. Kondisi ini pasti akan membuat penderitanya lemas karena terlalu banyak cairan yang keluar. Makanya, penderita diarea harus diberikan asupan cairan segera setelah ia BAB. 

Penyebab diare yang paling umum adalah karena infeksi pada usus, yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan parasit. Diare merupakan salah satu penyakit yang paling sering diderita oleh anak. Banyak ibu yang menganggap kalau diare pada anak bisa diatasi sendiri. Menganggap kalau diare adalah penyakit yang biasa diderita jadi tidak ada kekhawatiran yang berlebihan, malah cenderung santai.

Tahukan ibu, kalau ada risiko yang terjadi ketika anak terkena diare. Risiko diare pada anak diantaranya;

  • Anak yang terserang diare memiliki risiko kekuranan gizi 
  • Anak yang sering terkena diare berisiko lebih pendek 3,6 cm ketika berusia 7 tahun, dibandingkan dengan teman seumurannya
  • Anak akan berpotensi memiliki IQ lebih rendah dari anak lainnya


Menurut DR. Dr. Ariani Dewi Widodo Sp.A (K), diare pada anak tidak boleh dianggap biasa. Karena jika dibiarkan anak akan mengalami lemas, kekuarangan cairan, hingga berujung pada kematian. Perlu penanganan yang tepat dan jika diare berlanjut, sebaiknya segera hubungi tenaga medis. 

"Apabila anak tidak mau makan dan minum, orangtua perlu mengusahakan asupan bernutrisi yang mudah diterima oleh anak. ASI dan cairan rehidrasi oral (oralit) adalah yang utama setelah tambahan zinc. Selain itu, asupan nutrisi yang baik dapat mempercepat pemulihan fungsi usus normal, termasuk kemampuan untuk mencerna dan menyerap makanan yang masuk, serta memberikan energi untuk mempercepat proses pemulihan" ujar Dr. Ariani

Penyebab terbanyak diare pada anak adalah Rotavirus. Penelitian menunjukkan kalau sekitar 30% anak Indonesia yang mengalami diare karena rotavirus, juga mengalami Intoleransi Laktosa. Bahkan ada penelitian di negara lain yang menemukan angka lebih tinggi, yakni sekitar 67% diare disebabkan karena Rotavirus.


Diare yang disebabkan karena Rotavirus membuat jonjot usus menjadi rusak. Sehingga mengurangi ada enzim di jonjot usus yang berkurang seperti enzim laktase. Enzim Laktase ini adalah enzim yang berguna untuk mencerna gula alami (laktosa) yang terdapat pada susu. Laktosa yang tidak cicerna tentu tidak bisa diserap, sehingga menyebabkan diare menjadi berat, kembung, dan tinja berbau asam. Inilah yang akhirnya disebut dengan Intoleransi Laktosa. 


Ketika Si Kecil Diare 

Ada 5 hal penting yang harus ibu perhatikan dan lakukan ketika si kecil terkena diare 
  1. Untuk anak yang masih mendapatkan ASI, teruskan pemberian ASI karena ASI adalah cairan dan makanan terbaik. 
  2. Cegah dehidrasi dengan larutan oralit. Bubuk oralit bisa dibeli di toko obat atau dengan resep dokter. 
  3. Konsultasikan ke tenaga medis jika kondisi anak makin mengkhawatirkan. 
  4. Selalu jaga kebersihan tubuh dan lingkungan si kecil. 
  5. Jika perlu, berikan nutrisi bebas laktosa berdasarkan rekomendasi tenaga medis. 


Diare tidak boleh dianggap remeh. Karena diare merupakan penyakit nomor 2 yang menyebabkan kematian pada anak. Orangtua harus peka ketika anak mendapati perubahan pada anak. Lakukan tindakan yang benar jika anak terkena diare. Tentu kita tidak boleh langsung panik karena panik akan membuat anak makin merasa tidak nyaman.

Kampanye #IndonesiaMerdekaDiare Untuk Anak Indonesia Lebih Sehat

Banyak ibu yang belum teredukasi soal diare. Masih ada yang menganggap kalau diare adalah penyakit yang biasa diderita anak. Padahal jelas penyakit ini berbahaya dan jika dibiarkan akan berpotensi pada kematian. Penanganan yang tepat pada anak yang terkena diare, tentu akan mempercepat proses penyembuhannya.

Nutricia Sarihusada merasa kalau edukasi soal diare ini sangat penting. Oleh karena itu, melalui kampanye "Indonesia Merdeka Diare" diharapakan akan semakin banyak ibu yang mengerti penanganan yang tepat diare pada anak. Kampanye ini juga sebagai langkah nyata komitmen perusahaan terhadap nutrisi untuk bangsa. Tujuannya, agar anak Indonesia menjadi generasi yang sehat dan maju.



Ibu bisa mendapatkan banyak sekali informasi seputar diare lewat akun media sosial Nutrisi Untuk Bangsa. Ada video dari Prof. Nutri dimana ibu bisa tahu bagaimana penanganan yang tepat pada anak yang terkena diare.

Ibu, waspada diare pada anak dengan dukung kampanye #IndonesiaMerdekaDiare dari Nutricia Sarihusada ya. Anak adalah aset bangsa. Kelak mereka lah yang menggantikan posisi kita untuk mejalani roda kehidupan. Tetap aware pada kesehatan anak dengan selalu memberikan mereka nutrisi yang baik.

6 komentar:

  1. Baru tau ternyata diare menyebabkan lebih pendek 3,6 cm,,Thank you for sharing kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, pas ikut acara ini pun saya jadi tahu :)

      Hapus
  2. nub selalu kasih ilmu parenting yang bagus, salah satunya materi diare. biasa dianggap penyakit biasa tapi bisa berbahaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua ibu harus aware sama penyakit yang satu ini ya. Ngga boleh dianggap biasa lagi

      Hapus
  3. senang ya kalo ada brand yang peduli begini semoga kampanye initepat sasaran

    BalasHapus